Telephone pintar Xiaomi, atau Redmi2 Prime, yang berharga sekitar
USD110 (Rp 1,5 juta) mulai diproduksi sebuah pabrik di Sri City, sebuah
kota di wilayah Selatan negara bagian Andhra Pradesh pekan ini.
Perusahaan China ini sebenarnya telah memasuki pasar India setahun
lalu, namun sejak itu konsumen yang peduli harga telah membeli hingga
tiga juta telepon produksinya sehingga menjadikan negara berpenduduk 1,2
miliar orang ini sebagai pasar terbesar kedua bagi Xiaomi.
Perusahaan ini mengatakan mereka memperoleh keringanan pajak dan bisa
mengirimkan telefon-telefon yang diproduksinya lebih cepat.
Sejak Xiaomi memproduksi telepon genggam pertamanya, Menetri Besar
Andhra Pradesh Chandrababu Naidu menjamin para investor bahwa negara
bagian itu akan mempermudah bisnis mereka di sana.
"Kami telah menciptakan kebijakan satu meja. Dalam dua pekan, semua
izin akan diberikan tanpa harus pergi ke kantor manapun. Segera setelah
Anda mengajukan aplikasi, adalah tanggungjawab badan urusan industri
untuk memberikan seluruh perizinan," ujar Naidu, seperti dikutip dari VOA, Sabtu, (15/8/2015).
Meskipun para konsumen di pasar telepon pintar terbesar ketiga di
dunia ini membeli lebih dari 50 juta telepon pintar tahun lalu,
kebanyakan telepon-telepon itu diimpor dari China dan Taiwan.
Fakta ini mendorong pemerintah India untuk menggelar berbagai usaha
untuk menarik perusahaan-perusahaan elektronik dunia agar mengalihkan
produksinya ke India.
Usaha-usaha tersebut membuahkan hasil. Selain memproduksi telepon
untuk Xiomi, Foxconn - produsen peralatan elektronik terbesar di dunia -
juga mengumumkan investasi senilai 5 miliar dolar di wilayah Barat
negara bagian Maharasthra untuk membangun fasilitas-fasilitas riset dan
produksi teknologi tinggi. Perusahaan itu akan membangun 10 pabrik dan
mempekerjakan sekitar satu juta orang sebelum tahun 2020.
Kebanyakan pabrik Foxconn berlokasi di China. Namun, para analis
mengatakan, pasar domestik yang melambat dan upah yang meningkat di
negara dengan ekonomi terbesar di Asia itu mendorong
perusahaan-perusahaan untuk mencari lokasi-lokasi produksi alternatif.
Untuk menarik sejumlah investasi tersebut, Perdana Menteri Narendra
Modi telah mempromosikan kampanye "Buatlah di India". Ia berusaha
meyakinkan kembali perusahaan-perusahaan dunia yang telah lama
mengkhawatirkan hambatan birokrasi dan korupsi di negara itu bahwa ia
akan menjadikan India tempat yang lebih mudah untuk berusaha.
India terhitung ketinggalan dibanding negara-negara Asia lain dalam
produksi industri, namun kini menetapkan target untuk meningkatkan
pangsa produksi dalam produk domestik brutonya dari 16 persen menjadi 25
persen.





0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !