Tim peneliti di Columbia University mengembangkan prototipe kamera yang memiliki kemampuan menjepret gambar tanpa henti. Tanpa perlu baterai yang di-charging, kamera diciptakan dengan kemampuan menghasilkan energi sendiri.
Dilansir Redorbit, Minggu (19/4/2015), era perangkat dengan
energi 'abadi' atau terbarukan tampaknya mulai bermunculan.
Pada dasarnya, kamera ini mengubah cahaya ke dalam energi listrik.
Pada dasarnya, kamera ini mengubah cahaya ke dalam energi listrik.
Bagian sensor gambar tidak hanya mengatur berapa banyak cahaya yang
masuk, tetapi mengonversi cahaya itu menjadi energi. Shree K. Nayar,
pemimpin tim peneliti menciptakan inovasi tersebut, yang menyadari bahwa
sensor gambar digital dan panel surya, keduanya terbuat dari material
serupa.
Sebuah sensor piksel gambar atau photodiode, memproduksi listrik saat
terpapar cahaya. Seberapa banyak energi yang dihasilkan bergantung pada
intensitas cahaya. Pada kamera, cahaya tersebut diinterpretasikan
sebagai warna.
Photodiode juga digunakan dalam panel surya, namun bukan informasi
warna, tetapi menghasilkan tenaga listrik. Photodiode dalam piksel
kamera beroperasi di modus 'photoconductive', sedangkan photodiodes
dalam panel surya beroperasi dalam modus 'photovoltaic'.
Prototipe kamera yang dikembangkan memiliki kemampuan antara dua
modus tersebut. Kamera akan melakukan pengisian energi sendiri untuk
beberapa saat, menjepret gambar, mengulanginya dan seterusnya.
Teknologi ini memungkinkan kamera tanpa perlu memiliki baterai
(rechargeable) yang terpasang. "Kami mengambil pendekatan yang ekstrem
untuk menunjukkan bahwa sensor ini memang benar-benar 'self-powered' dan
menggunakan hanya sebuah kapasitor untuk menyimpan energi yang
dipanen," kata Nayar.
Bila prototipe sebelumnya menampilkan sensor gambar, prototipe
terbaru ini kabarnya dapat merekam video dengan resolusi 30 x 40 piksel.
Perangkat prototipe ini mampu menghasilkan gambar berkelanjutan tanpa
batas.




0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !